Menatap Senja



Kala senja memang selalu menarik perhatian. Bahkan kita selalu menemui kalimat-kalimat puitis yang terinspirasi oleh suasana senja. Seolah senja merupakan satu-satunya pemandangan mengagumkan di alam semesta ini. Oleh sebab itu tak jarang senja banyak diabadikan dalam bentuk foto.

Ketika menatap senja, imajinasi kita seolah sedang berpetualang di suatu tempat yang benar-benar membuat kita menjadi nyaman. Memang harus diakui bahwa senja sering membangkitkan kenangan-kenangan yang pernah kita jalani di kehidupan ini. Senja juga membuat kita membayangkan cerahnya masa depan kita masing-masing. Itulah luar biasanya Tuhan menganugerahkan senja untuk nikmati.

Berbicara mengenai senja, tidak lengkap apabila tidak disertai dengan mendengarkan lagu "Apakah kau melihat mentari senja" dari JKT48. Lagu tersebut menceritakan semangat kehidupan dan semangat persahabatan untuk membangkitkan jiwa optimis dalam menggapai mimpi-mimpi yang kita inginkan. Sehingga menjadi motivasi bagi pendengarnya.

Sebuah kebahagiaan yang luar biasa akan kita rasakan apabila melihat perubahan dari warna orange ke warna merah. Disitulah kita secara otomatis melamun dalam menikmati suasana senja. Sayangnya suasana senja tidak dapat kita saksikan dalam jangka waktu yang lama. Sepertinya, Tuhan tidak mengijinkan kita untuk terus-terusan merenung dan melamun. Cukup sekilas untuk membuat kita termotivasi dengan fenomena tersebut.

Umumnya orang-orang menyaksikan senja di pantai, gunung, maupun alam pedesaan. Mereka menikmati senja di tempat tersebut, sebab lingkungannya masih alami, sehingga terasa menyatu dengan alam. Meskipun demikian, banyak pula yang menatap senja di kota-kota yang suasananya tidak beda jauh dengan tempat yang masih alami.

Setelah senja usai, kita harus menyadari bahwa malam telah datang untuk menghapus langit merah yang sebelumnya kita saksikan. Akhirnya kita sadar bahwa karunia yang sekilas itu merupakan karunia tuhan yang agung.

                                                                                                    
                                                                                                       Oleh: Yogaswara Fajar Buwana



Komentar